Erizeli Jely Bandaro: Saya hanya berpikir, kapan Indonesia menerapkan metode Mesir dalam menghadapi radikalisme...?
BELAJAR DARI MESIR
(Cara menghadapi politik identitas)
Berkat proses bertahun tahun politik identitas, tahun 2012 kelompok Islam berhasil menjatuhkan Husni Mubarak lewat Pemilu.
Kekalahan Mubarak dan naiknya Mursi adalah kemenangan Ikhwanul Muslimin (IM) bersama ormas islam lainnya yang telah melakukan perjuangan panjang berpuluh tahun untuk tegaknya syariah Islam.
Namun kemenangan itu tidak berumur panjang. Karena ormas yang tadinya mendukung IM mulai beraksi berlain jalan. Saling rebut kekuasaan diatara kelompok IM dan HT terjadi.
Di tambah lagi Rakyat Mesir mulai muak dengan para orang yang mengaku pemegang kunci kebenaran dan sorga itu.
Apa pasal?
Di tangan mereka bukannya Mesir bertambah baik secara politik tapi malah mundur kebelakang. Lembaga kehakiman dikontrol Presiden lewat referendum.
Hasilnya?
Ekonomi semakin memburuk, korupsi marak, kolusi menjadi pemandangan umum di bawah Mursi.
[https://hatihatiradikalisme.blogspot.com/2020/08/belajar-dari-mesir-cara-menghadapi.html]
**
Kondisi ini memancing amarah Rakyat Mesir. Aksi menentang Mursi terjadi massive disetiap kota. Militer Mesir dapat bersikap bijak. Mereka sadar gerakan itu murni karena soal keadilan.
Dengan dukungan militer , pada 3 Juli 2013 rakyat mendepak Mursi dari kursi presiden. Mursi dijebloskan ke penjara, dan harus siap dihukum mati.
Praktis Mursi hanya berkuasa selama satu tahun tiga hari.
Setelah itu, Mesir bertransformasi menjadi negara demokratis dan mengharamkan segala kampanye khilafah dan gerakan islam radikal.
Karena mereka sudah membuktikan para mereka yang hafid al quran itu ternyata penipu ulung atas nama agama.
Ditengah upaya membangun menyejahterakan rakyat, sekelompok orang yang masih bermimpi membangun kekuasaan atas dasar syariah islam terus melakukan konsolidasi secara diam-diam untuk menyerang disaat ada kesempatan.
Maka terjadilah serangan bom bunuh diri dan penembakan di masjid Al-Rawda, Sinai, Mesir, yang menewaskan 235 orang dan 109 luka berat.
Para pejabat Mesir menyatakan, tragedi di masjid “kaum sufi” itu merupakan serangan teroris paling mematikan dalam sejarah modern Mesir.
Bagaimana sikap pemerintah Mesir?
Tidak ada dialog lagi antara ulama dan tokoh agama.
Tidak ada persuasi makan siang antar tokoh agama.
Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menanggapi tragedi serangan bom di masjid itu dengan memerintahkan militer mekakukan serangan besar besaran.
Dengan dukungan drone AS dan Eropa, upaya pengejaran target dapat dengan mudah dilakukan dan tepat mengenai semua sasaran. Semua wilayah teroris berhasil diluluh lantakan termasuk ratusan para jihadis mati.
Operasi inteligent memburu para pihak yang dicurigai mendukung teroris dilakukan dengan aksi pengkapan secara massive.
Dua bulan lalu massa IM kembali turun kejalan. Namun berhasil ditumpas pemerintah dan menangkap 2800 kader IM dan para aktifis.
**
Apa yang terjadi dengan Mesir bisa saja terjadi di Indonesia.
Perjuangan mendirikan khilafah dan syariat islam itu bukan gerakan moral dan spritual. Itu murni gerakan politik.
Tidak ada agama yang diperjuangkan disini kecuali kekuasaan.
Kalau mereka pejuang agama atas nama Allah dan Rasul, tidak mungkin mereka membunuh orang yang sedang sholat di mesjid. Tidak mungkin melukai aparat polisi yang sedang sholat di masjid.
Kebencian mereka kepada umat islam yang tidak mendukung gerakan mereka lebih besar dibandingkan dengan orang non islam.
Jadi siapapun anda yang masih percaya gerakan politik identitas Islam, membela syariah islam maka anda sedang digiring jadi zombie ganas.
Waspadalah, jangan sampai negeri ini jadi korban keganasan para jihadis yang menghalalkan darah siapa pun demi kekuasaan.
Belajarlah dari Mesir, yang kini jadi negara modern. Berkat Cina, Mesir membangun ibukota baru yang modern.
Mantan Asisten Direktur Dana Moneter Internasional Mesir, Fakhri Al-Faqi, mengatakan bahwa data semester pertama 2019, Mesir berhasil berada di posisi ke tiga setelah Cina dan India sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia, dan..
Indonesia tertinggal karena terus kompromi dengan radikalisme.
[https://hatihatiradikalisme.blogspot.com/2020/08/belajar-dari-mesir-cara-menghadapi.html]
Showing posts with label Radikalisme. Show all posts
Showing posts with label Radikalisme. Show all posts
Thursday, August 27, 2020
Monday, September 16, 2019
4 ALIRAN RADIKAL DAN ALASAN MASUK INDONESIA, WASPADALAH !
KIAI SAID UNGKAP 4 ALIRAN RADIKAL DAN ALASAN MASUK INDONESIA, WASPADALAH !
Sabtu, 14 September 2019
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj, mengungkap empat macam aliran radikal yang masuk ke Indonesia sejak ‘80-an.
Keempat aliran itu memiliki tingakatan radikal berbeda, sedangkan yang paling radikal adalah yang masuk terakhir, yakni Takfiri.
◆ PERTAMA, WAHABI.
Aliran ini, kata Said, masuk secara perlahan sejak ‘80-an dengan teologinya yang radikal, tapi tidak tindakannya.
Kelompok ini menilai perayaan Isra’ Mi’raj adalah bidah, Maulid Nabi SAW bidah, dan ziarah kubur musrik. Tapi, ujar Said, kelompok ini menyampaikan hal yang dianggap bidah itu secara santun. Tanpa caci maki.
“Saya tahu persis, dari sananya ulama Wahabi memang melarang caci maki,” kata Said ketika menjadi pembicara dalam seminar bertajuk ‘Selamatkan Indonesia dari Radikalis, Teroris, dan Separatis’ di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (12/9).
◆ KEDUA, SALAFI.
Aliran yang datang dari Yaman ini, ujar Said, lebih keras dari pada Wahabi karena mulai menggunakan caci maki. Kelompok yang mengikuti aliran ini berkeinginan melaksanakan purifikasi ajaran Islam.
◆ KETIGA, JIHADI.
Aliran ini lebih radikal dan bahkan bisa disebut ekstrem jika dibandingkan dengan dua aliran sebelumnya. “Jihadi menghalalkan membunuh non-Muslim dan menghancurkan tempat ibadahnya,” ucap Said.
◆ KE EMPAT, TAKFIRI.
Menurut Said, Takfiri adalah puncak yang paling sempurna dari radikalisme. Aliran ini, kata dia, dibentuk Syukri Ahmad Mustofa pada 1969 di Mesir.
“Aliran ini menganggap semua orang kafir, kecuali mereka saja yang tidak kafir. Mereka yang membunuh Presiden Mesir Anwar Sadad pada 3 Oktober 1981, membuhuh Menteri Agama Mesir Syekh Husein dan membunuh wartawan Yusuf,” papar Said.
Kelompok Takfri ini, lanjut Said, sebenarnya sudah dihabisi Presiden Mesir Hosni Mubarak, tapi banyak yang berhasil kabur ke Semenajung Sinai. Mereka bersembunyi di gua-gua dan lembah-lembah.
Alhasil, pengikut aliran Takfiri ini kembali melancarkan aksinya sekitar setengah tahun yang lalu. “Mereka meledakkan bom ketika sedang shalat Jumat dan menewaskan 380 orang,” kata Said.
Lebih lanjut, dia menjelaskan alasan mengapa Indonesia juga menjadi sasaran kelompok Takfiri. Kelompok ini di Indonesia sama dengan di tempat asalnya, yakni mengangaggap semua orang, kecuali mereka, adalah kafir. Bahkan, NU dan Muhammadiyah juga dianggap kafir.
“Mengapa? Karena kita dianggap negara yang tidak Islam. Mendukung Pancasila dan UUD 45 itu thaghut dan berhala bagi mereka,” ucapnya.
Tak hanya itu, imbuh Said, kelompok ini juga menjadikan produk hukum Indonesia sebagai alasan mengkafirkan. Sebab, menurut mereka, memakai hukum dari hasil olah pikir manusia adalah tindakan kafir.
“Persis dengan cara berpikirnya Abdur Rahman bin Muljam yang membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan dalih tidak melaksanakan hukum Allah. Ali itu dianggap kafir karena kalau mau memutuskan masalah selalu bermusyawarah dulu dengan sahabat. Bagi mereka itu bukan hukum Islam, (tapi) hukum manusia,” tutur Said.
Sumber :
http://www.muslimoderat.net/2019/09/kiai-said-ungkap-4-aliran-radikal-dan.html#ixzz5zUiOVUkA .
Sunday, July 21, 2019
Upaya Merebut Prabowo dari Islam Radikal
Upaya Merebut Prabowo dari Islam Radikal
Saya menulis tulisan ini menjelang tengah malam, 26 Juni 2019. Esok hari 27 Juni 2019 akan menjadi hari bersejarah bagi demokrasi Indonesia, di mana MK akan membacakan putusan atas persidangan sengketa Pilpres 2019. Tulisan ini tidak akan membahas lagi bagaimana sidang kemarin telah berjalan. Tulisan ini justru mengetengahkan wacana dunia politik Indonesia beberapa hari atau minggu ke depan.
Sama-sama kita tahu bahwa kubu Prabowo-Sandi telah memilih jalur hukum yang bermartabat bagi gugatan mereka atas hasil Pilpres 2019. Hal ini patut kita hormati dan kita apresiasi. Bagaimana pun kesediaan menempuh proses hukum adalah sikap mulia seorang warga negara. Dan sebaliknya, penolakan terhadap proses hukum adalah sikap tercela. Prabowo memilih jalur damai di MK daripada turun ke jalan melakukan "people power" seperti yang diserukan oleh para pendukungnya sejak sebelum Pilpres berlangsung. Prabowo sampai di sini menunjukkan sikap negarawan yang patut kita hargai.
Tidak hanya itu, Prabowo juga sudah menyatakan akan menerima apapun hasil sidang MK dan melarang pendukungnya turun ke jalan melakukan demonstrasi. Lagi-lagi ini adalah sikap ksatria yang secara eksplisit patut kita acungi jempol. Dari pernyataan sikap Prabowo ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa di kalangan elit bangsa kita sudah tidak ada lagi perseteruan. Bahkan beberapa hari terakhir, media massa baik elektronik, cetak, maupun online mengetengahkan isu-isu rekonsiliasi antara kubu Jokowi dan Prabowo. Awalnya penulis sangat tidak setuju dengan isu rekonsiliasi ini. Bagi penulis, Jokowi telah mengkhianati kontituennya jika melakukan rekonsiliasi politik dengan Prabowo. Namun, setelah mengamati banyak fenomena melalui media berita yang ada, penulis merubah pikiran dalam masalah rekonsiliasi ini.
Salah satu fenomena yang merubah pikiran penulis adalah sikap FPI yang tidak menurut pada perintah Prabowo dengan ingin tetap melakukan aksi massa. Artinya FPI sudah tidak satu komando dengan Prabowo. Lalu FPI mau memperjuangkan siapa? Memperjuangkan Prabowo? Sedangkan Prabowo sudah menyatakan siap menerima apapun keputusan MK, termasuk jika dia kalah dalam persidangan tersebut. Ada yang janggal. Ada sesuatu yang menarik dan pastinya memiliki hubungan erat dengan sikap Prabowo, isu rekonsiliasi, dan nasib berbagai aliran Islam Politik juga Islam radikal di Indonesia.
Berita terakhir yang penulis baca dari media online JJPN menyebutkan bahwa orator PA 212, Marwan Batubara menyatakan "ancaman" kepada Prabowo jika Prabowo menerima tawaran rekonsiliasi dan mengakui kekalahan. "Anda (Prabowo) mengkhianati itu, anda tak pantas jadi pemimpin. Silakan anda ambil jalan sendiri, kami akan ambil jalan advokasi demi tegaknya Indonesia," kata Marwan. Berita ini bisa dilihat di link berikut ini: https://www.jpnn.com/news/orator-pa-212-ancam-prabowo-subianto-anda-berkhianat-silakan-jalan-sendiri
Ini semakin membuat penulis berubah pikiran. Penulis menangkap satu simpul rumit dari gerakan Islam radikal di Indonesia melalui fenomena terakhir ini. Sama-sama kita tahu bahwa HTI secara struktur telah dihabisi oleh Jokowi. Sementara FPI hingga hari ini masih ketar-ketir soal perijinan di Kemendagri. Begitu pula pergerakan kelompok teroris seperti MIT, JAD, JAT, dan lain-lain sudah banyak dibabat oleh Densus 88 Anti-Teror.
Di sisi lain, mereka kaum radikal Islam baik yang melalui jalan politik ataupun teror, selama ini menggantungkan harapan pada satu sosok yaitu Prabowo. Bagi mereka Prabowo akan bisa menjadi "juru selamat" bagi pergerakan mereka di Indonesia. Mereka berpikir bahwa Prabowo bisa diandalkan untuk melindungi eksistensi mereka di Nusantara.
Namun sepertinya mereka lupa, Prabowo bukanlah sosok yang cukup Islamis. Prabowo bahkan secara tegas menolak paham khilafah. Jika pun selama ini Prabowo dekat dengan tokoh-tokoh Islam radikal, itu cuma kedekatan politik saja. Dan politik nilai-nilainya selalu berubah setiap harinya.
Ucapan Marwan yang dikutip dari JJPN, mengindikasikan ada friksi antara Prabowo dan kaum Islam radikal. Jika saya ada di posisi Prabowo, rekonsiliasi bisa jadi jalan penutup kerugian kekalahan di dua Pilpres yang telah berlalu. Artinya Prabowo tidak mungkin sanggup bertahan begitu lama menjadi oposisi. Dia telah merelakan banyak biaya politik yang tidak murah. Jika dia harus menuruti kemauan kelompok Islam radikal, apakah mereka bisa mengganti kerugian di dua Pilpres?
Meski begitu penulis tetap berada di pendapat awal penulis, bahwa Prabowo menyimpan aib besar sejarah bangsa Indonesia di akhir masa Orde Baru. Penulis menolak lupa terhadap hal ini. Penulis juga sadar betul ada banyak orang-orang Orde Baru terutama anak-anak Cendana yang ingin bangkit kembali dengan membonceng Prabowo. Tapi penulis tidak mentolerir jika Islam radikal harus mendapatkan ruang dan nafas di bumi Nusantara.
Penulis akhirnya membuat beberapa dugaan, sekali lagi, ini hanya dugaan bisa benar bisa salah. Dugaan tersebut adalah, pihak Jokowi dan gerbong politiknya sedang dihadapkan pada dilema, apakah harus tetap berkonfrontasi dengan Prabowo selama lima tahun ke depan dengan begitu tetap membuat kelompok Islam radikal bernafas dan bernaungan di gerbong politik Prabowo, atau berdamai dengan Prabowo di mana ini tentu akan memberi celah kepada orang-orang dekat Prabowo untuk masuk ke lini pemerintahan. Buah simalakama rasanya.
Namun penulis sadar, bahwa di samping Jokowi ada KH. Ma'ruf Amin. Beliau seorang ulama sekaligus politisi senior bangsa ini. Tentu pasti ada nasihat-nasihat yang meluncur ke telinga Jokowi. Mungkin kaidah Ushul Fiqh yang tentu sangat dipahami oleh Ma'ruf Amin yang berbunyi "akhafu baina dhararain" (memilih yang paling ringan bahayanya di antara dua bahaya) telah dibisikan ke telinga Jokowi.
Memberi ruang kepada orang-orang Prabowo masuk ke pemerintahan bisa jadi bukan pilihan baik, kita sama-sama tahu track record mereka. Namun setidaknya bangsa kita masih punya hukum dan orang-orang Prabowo bukanlah orang-orang yang kebal hukum atau berani melawan hukum. Sudah terbukti beberapa orang dari orang-orangnya Prabowo kini telah taat dan menjalani proses hukum. Lihat saja Ratna Sarumpaet dan Kivlan Zein.
Namun bagaimana jika tetap memberi ruang dan nafas bagi Islam radikal di Indonesia dengan tetap membiarkan mereka punya kendaraan politik? Ini pilihan yang sangat buruk, dan mestinya tidak boleh dipilih sama sekali. Kelompok Islam radikal di belahan dunia mana pun bukanlah kelompok yang patuh terhadap hukum negara. Mereka telah terdoktrin bahwa satu-satunya hukum yang patut mereka taati adalah hukum yang diklaim sebagai "hukum Allah". Dengan memberi mereka kendaraan politik meski itu berupa oposisi, mereka akan sangat membahayakan NKRI. Kelompok Islam radikan akan bisa bergerak bebas dengan memiliki akomodasi politik sebagai oposisi. Saya pikir orang seperti Jokowi tidak akan mau mempertaruhkan NKRI demi kepentingan politiknya.
Maka dugaan kedua saya adalah, Jokowi hendak "mengambil" Prabowo dari pelukan Islam radikal. Dengan begitu, Islam radikal tidak lagi mempunya gerbong politik. Mereka akan jadi "lone wolf" yang tak punya akomodasi untuk bergerak. Dan itu kesempatan besar bagi Jokowi untuk menghabisi mereka. Itu kenapa Marwan begitu emosional mengancam Prabowo. Islam radikal tanpa Prabowo hanya akan jadi gerbong rapuh tanpa lokomotif. Kelompok mereka yang sudah menggurita di tengah masyarakat bahkan di lembaga pemerintahan dan BUMN bisa dengan mudah teralienisasi dengan bercerai dari Prabowo. Mereka tidak bisa lagi memanfaatkan "hak" demokrasi untuk mengacak-acak bangsa ini.
Maka jika memang menarik Prabowo dan melepaskannya dari kontrak politik dengan Islam radikal harus dilakukan demi menjaga NKRI, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika, maka lakukanlah, Pak Dhe Jokowi! Kami generasi muda Indonesia yang ingin Indonesia tetap sebagai negara majemuk, plural, dan rukun selalu ada di barisanmu.
Semoga damai selalu menaungi Indonesia.
Friday, July 19, 2019
Kisah Perempuan Indonesia di Suriah: Anakku Digagahi di Depan Mataku
Kisah Perempuan Indonesia di Suriah: Anakku Digagahi di Depan Mataku
Ratusan pengungsi sedang beristirahat dan bermalam di sebuah tempat. Mereka ingin meninggalkan kota Raqqa yang dikuasai Daesh (ISIS) menuju sebuah kota di Turki. Ada percakapan antara wanita Indonesia dan wanita Suriah.
"Saya benar benar jadi korban propaganda Daesh. Jauh jauh suami saya mengajak kami sekeluarga meninggalkan Indonesia, ingin hidup dalam negara bersyariah dan Islami. Khilafah katanya lebih baik ketimbang negara Republik yang menganut paham demokrasi. Ditawarkan pekerjaan yang penghasilannya lumayan. Tentu saja kami tergiur, bisa hidup mapan sambil menabung amal untuk kehidupan akhirat nanti. Ternyata semuanya palsu. Suami saya dipenjara oleh Daesh. Saya hampir diperkosa. Anak perempuan saya mau dipaksa jadi istri pejuang Daesh. Kami ini korban Daesh," kata wanita asal Indonesia.
Wanita Suriah menjawab, "Korban ndasmu! Dasar botol (bodoh tolol)! Kalian itu pelaku, jangan sok jadi korban. Disebut korban adalah jika anda berada dalam kondisi diluar kekuasaan dan kendali anda. Seperti kami, yang dulu hidup tenang mencari nafkah dan membesarkan anak anak. Tiba tiba ada perang. Suamiku dipenggal kepalanya akibat tak mau ikut angkat senjata. Anak perempuanku digagahi didepan mataku sendiri, dan sekarang saya tidak tahu dia masih hidup atau tidak."
"Kalian enak hidup di Indonesia yang tenang dan damai, tak ada perang, tak ada Daesh. Tapi dengan kesadaran sendiri memilih datang ke negara kami untuk bergabung dengan Daesh. Apa kalian tak pernah melihat kekejian mereka menyembelih leher manusia seperti binatang? Apa kalian tak mendengar berita ada anak perempuan usia 12 th sudah dilelang di pasar budak untuk jadi pemuas nafsu sex mereka?"
"Pejuang pejuang Daesh itu berasal dari berbagai negara. Untuk apa kalian kesini? Untuk apa suamimu kemari? Suamimu sangat bodoh, membawa keluarganya ke negeri yang dilanda peperangan dan bersimbah darah. KALIAN ITU PELAKU, BUKAN KORBAN. Kalian ikut menghancurkan negeri kami dengan mimpi khilafahmu itu. Kita sama sama muslim, kenapa kalian tega menyakiti bangsa kami?"
Wanita asal Indonesia itu tak mampu berkata apa apa. Cuma menangis sesenggukan. Dalam hati dia berdoa agar tak ada lagi orang orang Indonesia yang berpikiran bodoh seperti suaminya, yang berpikir ingin membela agamanya sehingga rela meninggalkan kehidupan yang normal di Indonesia demi bergabung dengan Daesh yang perilakunya sangat barbar dan jauh dari nilai nilai kemanusiaan. Dia yakin agamanya adalah agama pembawa damai, bukan agama perusak.
Sekarang dia sadar bahwa suaminya cuma jadi korban doktrin sesat dari "guru gurunya", yang menganjurkan suaminya berangkat ke Suriah untuk membela agamanya. Membela agama macam apa yang bisa dilakukan di negara yang penuh kekerasan itu? Masih mendingan di Indonesia bisa menyantuni fakir miskin, membantu orang orang susah, dan menjadi guru ngaji bagi anak anak kecil di kampungnya. Itu lebih mulia dan berpahala.
(Sumber: Status Facebook Ari Wibowo)
THE DARK AND BLOODY SIDE Of KHILAFAH
THE DARK AND BLOODY SIDE Of KHILAFAH
"Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah kebatilan dengan agama”
[Ibnu Rusd]
Sudah baca buku “Islam Yes, Khilafah No” Jilid 2 karya Nadirsyah Hosen? Kalau belum, beli dan bacalah bukunya.
Umat Islam perlu mengetahui fakta sejarah kekhilafahan yang sebenarnya dan jangan mau di-bodoh2-i terus. Bodoh kok di-laminating…!?
Saya ber-kali2 menahan napas dan tak mampu meneruskan membaca buku ini. Saya harus berhenti membaca berkali-kali karena kisahnya begitu shocking, mengenaskan dan mengerikan.
Saya hampir tidak percaya bahwa kisah yang dituliskan itu nyata dan merupakan fakta sejarah. Masalahnya ini bukan sekedar sejarah tentang raja2 dan kaisar tapi ini sejarah kekhilafahan Islam.
Selama ini kekhilafahan Islam digambarkan oleh para pengusung khilafah dengan begitu gemerlap, indah, terberkati oleh Tuhan, satu-satunya solusi dunia, yang ternyata faktanya terbalik 180 derajat Celcius. Rasanya saya mau misuhi semua pentolan HTI yang selama ini telah membohongi umat Islam dengan gambaran yang keliru dan menyesatkan dari sistem khilafah yang mereka jajakan.
Buku pertama “Islam Yes, Khilafah No” juga sebenarnya telah menjelaskan betapa busuk, kejam, dan mengerikannya perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh para keluarga dari Dinasti Umayyah. Dinasti Umayyah adalah dinasti yang mengakhiri kekuasaan Ali bin Abi Thalib ra sebagai salah satu dari Khulafaur Rasyidin empat khalifah Islam yang paling diagungkan dalam sejarah Islam.
Sulit dipercaya bahwa umat Islam pada zaman itu bisa begitu kejam dan telengas jika berurusan dengan perebutan kekuasaan. Tapi begitulah faktanya.
Tapi buku kedua yang bercerita tentang Dinasti Abbasiyah yang memiliki 37 khalifah yang berkuasa sejak tahun 750 – 1258 lebih mengejutkan, mengenaskan, dan mengerikan.
Saya sampai tidak percaya bahwa perebutan kekuasaan di antara mereka bisa begitu kejam, ganas, dan tak mengenal belas kasihan. Umat Islam yang mewarisi ajaran agama yang penuh belas kasih dari Nabi Muhammad seolah manusia2 barbar yang tidak pernah mengenal ajaran agama sama sekali? Sampai segitunya…?!
Kok rasanya lebih biadab ketimbang kisah “Games of Thrones” ya…?!
Tapi itulah fakta sejarah yang tidak akan pernah dikisahkan oleh para pengusung khilafah macam HTI. Mereka menipu umat Islam seolah sistem khilafah yang mereka tawarkan adalah suci, murni, syar’i, tak punya cacat, dan merupakan perintah Tuhan bagi umat Islam untuk mendirikannya.
Tentu saja ada di antara tokoh mereka yang sudah pernah membaca kisah kelam dari sistem khilafah ini dan tahu bahwa sebenarnya sistem ini bukanlah ajaran Islam yang diwajibkan bagi umat Islam melainkan hanya ijtihad semata.
Tapi kalau hati sudah tertutup oleh angan-angan dan ambisi, maka semua fakta dan kisah yang ada tidak akan membuat mereka berubah. Semoga dibukakan hati kalian untuk bertobat.
Aamiin!
Bahaya Ideologi HTI
Sejak awal tahun 2003 di Balikpapan saya sudah mencium bau busuk dari propaganda HTI dan sejak itu saya terus aktif menentang mereka baik melalui tulisan mau pun dalam forum diskusi langsung. Tentu saja saya dimusuhi oleh para pengusung dan pendukung HTI ini.
Ada seorang teman yang bertanya dengan setengah menggugat mengapa saya getol sekali menulis tentang bahayanya HTI dan perlunya umat Islam mengenyahkan gerakan mereka dari bumi persada ini. Bahkan ada banyak teman yang dengan terang-terangan membela HTI dan mengecam saya.
Saya bisa mengerti bahwa memang banyak umat Islam yang telah tertipu oleh pemikiran Islamisasi negara ala HTI ini. Belakangan ini banyak orang yang baru paham akan bahayanya gerakan Hizbut Tahrir setelah gerakan ini membesar dan terasa benar2 mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selama ini kita memang menganggap remeh gerakan berbahaya ini dan meski kemudian tersadar gerakan ini telah begitu menusuk dan merusak pemikiran banyak umat Islam. Untunglah kemudian Presiden Jokowi melarang gerakan ini mengikuti puluhan negara lain yang juga telah melarang gerakan ini di negara masing2.
Tapi keterlambatan ini jelas membawa ongkos yang tidak sedikit yang sampai sekarang dan entah sampai kapan masih harus kita bayar. Telah terlalu banyak umat Islam yang tertipu oleh gerakan ini.
Umat Islam Indonesia memang masih mudah dikecoh dengan segala atribut yang berbau agama. Dan itu sudah disampaikan oleh Ibnu Rusd ber-abad2 yang lalu dengan peringatannya :
"Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah kebatilan dengan agama.”
Umat Islam sangat mudah dikecoh dengan kemasan yang berbau agama dan itulah yang dilakukan oleh organisasi politik bernama Hizbut Tahrir ini.
Meski pun mereka jelas2 adalah organisasi politik yang berasal dari Timur Tengah toh sangat banyak umat Islam yang menganggap ini semacam lembaga dakwah Islam yang ingin membawa kemurnian dan kejayaan agama Islam dan menghancurkan kebatilan yang ada di Indonesia.
“HTI selama ini baik-baik saja dan pendukungnya adalah orang-orang yang taat beragama.”, demikian kata teman saya membela HTI. Tentu saja yang per-tama2 mudah ditipu oleh gerakan ini adalah orang2 yang taat beragama karena memang bungkus yang digunakan adalah agama dengan menggunakan hadist dan ayat-ayat Alquran.
HTI tidak akan mungkin didukung oleh non-muslim atau muslim yang tidak silau dengan atribut agama.
"HTI tidak pernah memberontak seperti PKI.” demikian katanya lagi.
Memang belum tapi pasti suatu saat akan memberontak. Tidak mungkin tidak. Seperti juga PKI dulu mereka hanya menunggu kapan mereka siap melakukannya. Dan itu sudah dilakukannya di beberapa negara.
Tahun 1974, Hizbut Tahrir melakukan kudeta dengan membunuh Presiden Anwar Sadat dan mengumumkan berdirinya negara Islam di Mesir di bawah kendali HT. Kudeta ini gagal dan semua pelakunya dihukum mati.
HT kemudian dilarang di Mesir.
Di Yordania, Bangladesh, Pakistan, Irak, dan Suriah mereka pun mencoba melakukan kudeta, dan gagal. Tapi tentu saja informasi kejahatan HT dan pembrangusan organisasi ini di berbagai negara tidak akan pernah disampaikan oleh para pendukung fanatik HTI. Itu akan membuat kedok dan belang mereka terbongkar.
Di Indonesia mereka melakukan cuci otak melalui ceramah dan pengajian supaya bisa mendukung gerakan mereka untuk mendirikan negara Islam. Mereka melakukan ini dengan massif, sistematis, dan terstruktur pada masjid-masjid, kampus-kampus, dan berbagai pengajian dan halaqah yang mereka masuki.
Mereka melakukan cuci otak pada umat Islam dengan menggunakan jargon2 agama yang tentu saja mereka kuasai dengan sangat baik. Itulah sebabnya* banyak sekali umat Islam yang terkecoh dan mengira bahwa mendirikan negara Islam adalah perintah Tuhan yang wajib ditaati. Mereka akhirnya terbius oleh racun dogma yang menyatakan bahwa negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah negara thagut yang harus diperangi dan harus diganti dengan sistem kekhilafahan ala HTI.
Tapi apa sih sebenarnya bahayanya gerakan HT ini?
Jelas sekali bahwa organisasi ini akan merongrong dan menggerogoti kecintaan rakyat pada bangsa dan negaranya. Umat Islam diajarkan untuk kufur terhadap nikmat kemerdekaan dan berdirinya bangsa dan negara NKRI karena bukan berbentuk khilafah.
Bahkan lebih daripada itu, warga muslim Indonesia diajak untuk melakukan makar dan berkhianat pada bangsa dan negaranya sendiri dengan menyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara thagut yang tidak layak untuk diikuti dan patut ditentang. Hal ini menyebabkan warga muslim Indonesia kehilangan kepatuhan dan kesetiaannya pada pemerintah, bangsa dan negaranya.
Salah satu metode yang dilakukan oleh orang-orang HTI adalah mereka secara konsisten, sistematis, dan terstruktur mengembangkan kultur negatif pada masyarakat, khususnya umat Islam.
Orang-orang HTI memfokuskan dirinya untuk mencari-cari kesalahan pemerintah dan me nyebar2-kannya pada semua umat Islam.
Mereka fokus mengembangkan psikologi dan kultur negatif pada umat Islam agar mereka membenci pemerintah dan negaranya sendiri yang mereka cap thagut.
Dan semua itu mereka bungkus dengan manipulasi dakwah agama. Mereka secara sistematis berupaya menghilangkan kesetiaan umat Islam pada bangsa dan negara mereka.
Mereka selalu menyatakan bahwa umat Islam yang hidup di negara Indonesia yang thagut akan mati kafir. Padahal mereka sendiri hidup di Indonesia yang mereka tuding sebagai negara thagut yang artinya mereka sendiri akan mati kafir dengan sendirinya.
Tak ada sedikit pun kebaikan pemerintah di mata orang-orang HTI.
Sementara itu mereka meninggikan diri mereka dengan mengaku-ngaku menegakkan perintah agama utk mendirikan khilafah. Merekalah para pejuang agama yang kaffah sedangkan yang tidak ikut mereka adalah umat yang akan mati kafir. Semua orang dan pemerintahan adalah bathil kecuali mereka yang berada di jalan perjuangan menegakkan khilafah.
Apa yang paling buruk dari itu? Tentu saja karena mereka menggunakan kedok dakwah dan agama yang mereka selewengkan untuk menipu umat yang tidak sadar akan keburukan yang mereka sebarkan.
Mereka menggunakan kedok sebagai organisasi massa padahal apa yang mereka lakukan adalah kegiatan politik untuk mengkhianati perjuangan bangsa demi sebuah ideologi politik dari negara asing yang di negara asalnya pun mereka ditolak dan dilarang.
Khilafah adalah bagian dari produk ijtihad masa lampau dan telah habis masanya pada tahun 1924.
Sejarah kekhilafahan faktanya ternyata jauh lebih mengerikan dan biadab ketimbang yang pernah kita tahu dan mungkin tidak pernah disampaikan pada kita.
Khilafah juga bukan bagian inti dari ajaran Islam.
Ia tidak terdapat dalam rukun iman atau pun rukun Islam. Semua itu bisa kita ketahui dan pahami jika kita mau membaca buku-buku sejarah tentang kekhilafahan yang terserak.
Umat Islam harus cerdas dan paham bahwa mereka selama ini telah dijadikan sasaran dari sebuah ambisi kekuasaan politik yang datang dari Timur Tengah yang bakal menghancurkan sendi-sendi kesetiaan warga kepada negaranya.
Dan itu harus dicegah dengan sekuat tenaga kita.
Mari kita bersama melawan pengkhianatan ini.
ORGAN FUNGSIONAL HTI
Selain organ struktural seperti di atas, ada organ fungsional. Organ fungsional yang masih diaktifkan sekarang:
1. Lajnah Thalabun Nushrah. Lajnah ini bertugas menyusup ke TNI Polri untuk merekrut perwir tinggi dan menengah kemudian dibina dalam halaqah-halaqah HTI dan ditugaskan melakukan kudeta. Lajnah ini sangat rahasia. Di tingkat pusat hanya ada lima orang anggota. Dipimpin oleh seorang ketua lajnah dan disupervisi langsung oleh Amir Hizbut Tahrir internasional.
2. Lajnah Fa'aliyah. Lajnah ini bertugas menyusup ke lembaga-lembaga negara, partai politik dan ormas Islam untuk merekrut ketua lembaga seperti ketua MPR, DPR, DPD, menteri-menteri, MA, MK, Kejaksaan Agung, ketua partai dan ormas kemudian dibina dalam halaqah-halaqah HTI dan ditugaskan mengkondisikan lembaga negara, partai dan ormas untuk mendukung kudeta yang dieksekusi oleh dewan jenderal yang telah dibina oleh lajnah Thalabun Nushrah. lakukan kudeta. Di tingkat pusat hanya ada lima orang anggota. Dipimpin oleh seorang ketua lajnah dan disupervisi langsung oleh Amir Hizbut Tahrir internasional. Ketua lajnah Fa'aliyah HTI sekarang adalah M. Rahmat Kurnia (dosen IPB).
3. Lajnaj siyasiyah. Lajnah ini bertugas membangun opini masyarakat masyarakat, menyerang pemerintah agar masyarakat mendukung Khilafah melalui tulisan yang disebarkan dengan nama fiktif Nasrudin Hoja, buletin Kaffah, tabloid Media Umat dan channel Youtube Khilafah Channel, dll. Lajnah ini juga yang mengatur dan mensupervisi gerakan LBH PELITA UMAT. LBH ini bentukan HTI.
4. Lajnah Khos Ulama. Lajnah ini bertugas menyusup ke pesantren-pesantren dan majlis ta'lim untuk merekrut para kiai dan ustadz yang akan dibina dalam halaqah-halaqah HTI untuk memberi dukungan bagi tegaknya Khilafah versi HTI. Lajnah ini diiisi oleh anggota senior HTI yang punya latar belakang santri antara lain Mustofa Ali Murtadha, Yasin Muthahhar, Ahmad Junaidi (Gus Juned), Nurhilal Ahmad, Abdul Karim, dll. Mereka mempublikasi kegiatan di www.shautululama.id
5. Lajnah Thullab wal Jami'ah. Lajnah ini bertugas merekrut pelajar dan mahasiswa melalui Rohis dan LDK yang berafiliasi ke HTI dan melalui komunitas milineal yang dibuat oleh aktivis HTI seperti #yukngaji yang diinisiasi oleh Felix Siauw, KARIM, dll. Untuk LDK-LDK yang berafiliasi dengan HTI dikumpulkan dalam BKLDK dan Gema Pembebasan.
6. Jurubicara yaitu M. Ismail Yusanto didampingi wakilnya Farid Wajdi.
7. Mudir Maktab yang dipegang oleh Anwari alias M. Anwar Iman alias Suwarno. Selain menjadi pusat data, informasi dan administrasi internal, mudir maktab juga menjadi penterjemah surat-surat dari Amir HT internasional. Dan mengelola majalah internal al-Wae'ie.
8. Lajnah Dosen, Peneliti dan Akademisi. Bertugas merekrut para akademisi (dosen, peneliti, tenaga administrasi kampus) untuk dibina dalam halaqah-halaqah HTI. Lajnah ini dikomandani oleh Prof. Fahmi Amhar dibantu DR. Kusman Sadik (dosen IPB), DR. Fahmi Lukman (dosen Unpad), dll.
Cek konten menarik yang saya temukan di BaBe:
http://share.babe.news/s/FZxMRrM
Download aplikasi berita paling lengkap 👇🏻👇🏻👇🏻👇🏻👇🏻👇🏻
http://share.babe.news/s/mZUprpQ
Saturday, June 1, 2019
PAK JOKOWI! WAHABI, KHILAFAH, ISLAM RADIKAL DI SEKOLAH2 & KAMPUS ANCAM NKRI
PAK JOKOWI! WAHABI, KHILAFAH, ISLAM RADIKAL DI SEKOLAH2 & KAMPUS ANCAM NKRI
Sungguh menakutkan, Itu wajah sekolah dan kampus negeri di Indonesia. Intoleransi, anti keberagaman, anti pluralisme telah merasuk. Penyebabnya adalah mewabahnya Wahabi, Khilafah, dan Islam radikal di lingkungan pendidikan yang terkait dengan faktor di luar sekolah dan kampus yang juga lebih menakutkan. Perilaku khilafah yang nyata dijadikan rujukan anak sekolah dan mahasiswa. Serem beneran kan...
Surat yang beredar tentang Universitas Indonesia (UI) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai pusat kegiatan Islam radikal bukan isapan jempol. Gerakan bersih-bersih -untuk menguatkan Islam radikal- ala Islam radikal berlangsung. Caranya? Mereka menguasai seluruh alat kelengkapan akademis dan kegiatan di kampus. Rektor, Dekan, Senat Universitas, Senat Mahasiswa, Unit kegiatan, masjid dan unit bisnis mereka kuasai.
Sebelumnya di tingkatan pendidikan dasar dan menengah juga dilakukan penguasaan secara taktis. Di PAUD, SD, SMP, radikalisme dibangun lewat guru. Lembaga pendidikan berkedok IT, seperti SDIT, hampir dapat dipastikan dimiliki oleh PKS dan HTI. Di SMA mulai dengan kegiatan yang disebut Rohis dan OSIS. Di kampus mereka lebih radikal lagi. Siklus sejak PAUD sampai perguruan tinggi menggurita.
Wajah sekolah dan kampus negeri di Indonesia penuh rasa intoleransi. Gerakan Wahabi, khilafah, dan ajaran Islam radikal di Sekolah dan Kampus telah memicu intoleransi. Gerakan yang sudah 30 tahun lebih bergerak itu kini tengah memanen hasilnya. Intoleransi, anti-Pancasila, anti kemapanan, anti pemerintahan muncul di masyarakat. Negara dalam bahaya. Eksistensi NKRI terancam.
(PKS adalah salah satu wujud panen konservatisme agama yang formal dan legal yang mirip Partai AKP di Turki. Ideologi mereka pun sama: Ikhwanul Muslimin. Yang di Mesir dan banyak negara Teluk, IM adalah organisasi teroris. FPI potret pembiaran ormas gerakan Islam radikal di masyarakat, pemicu kisruh atas nama agama).
Wahabisme dan gerakan khilafah bersatu dengan Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Ini fenomenal. Padahal ketiga gerakan Islam radikal itu memiliki perbedaan ideologi perjuangan. Namun, karena terdesak di Timur Tengah, dan berbagai belahan Bumi, mereka merapatkan barisan. Itu salah satu sebab PKS tetap mendapatkan dukungan suara di Pemilu 2019.
Kondisi di luar kampus dan lembaga pendidikan ini makin rusak lagi. Sebagian kecil (20% menurut survei) karyawan BUMN, ASN telah terpapar paham radikal. Ideologi khilafah. Buktinya di masjid-masjid BUMN beredar khotbah-khotbah ajaran khilafah oleh ustad eks HTI. Banyak pula ASN yang terang-terangan menentang Pancasila. Pengikut khilafah. Salah satunya yang fenomenal ya Adyaksa Dault.
Panen radikalisme ini menjadi tantangan Presiden Jokowi. Jika ingin Indonesia tidak hancur berkeping seperti Syria, rakyat sudah mendukung dengan tidak memilih Prabowo, maka Jokowi harus membenahi pendidikan sejak PAUD sampai perguruan tinggi. Caranya?
Jokowi akan mengintegrasikan seluruh kekuatan dan sumber daya untuk melawan ancaman ambruknya Indonesia oleh gerakan anti NKRI, anti-Pancasila, pro Khilafah dan ISIS. TNI/Polri harus dikuatkan dan dibersihkan dari unsur non Merah-Putih. Kementerian Pendidikan Tinggi dan Ristek harus dibongkar agar memiliki kuku merangsek kampus seperti UI dan IPB. Pembersihan dari rektor sampai unsur lainnya.
Jokowi juga akan membuat kurikulum dasar untuk mengajarkan Kebangsaan, Nasionalisme, dan Kecintaan terhadap tanah air. Anak-anak Indonesia harus lebih mencintai bangsa dan budaya Indonesia dibanding dengan budaya Arab. Mahasiswa Indonesia harus bangga mengerek bendera Merah Putih. Bukan mengerek bendera Khilafah.
Karyawan BUMN dan ASN harus bangga melayani rakyat. Bukan menghisap gaji, pajak, korupsi untuk gerakan khilafah. KPK dan lembaga-lembaga negara harus bebas dari kepentingan gerakan khilafah.
Waktu 5 tahun adalah pendek bagi Jokowi. Jangan sampai waktu Jokowi habis untuk seremonial kekuasaan. Deal-deal dan menghabiskan waktu kisruh melayani kepentingan parpol. Jokowi harus segera bekerja untuk menunaikan janjinya: mempertahankan keutuhan NKRI dari kejatuhan ke tangah khilafah. Salah satunya lewat pendidikan. Dan, rakyat telah memilih dan mendukung pak Jokowi.
#JokowiMenang... #JokowiLagi... #2019JokoWidodoPresidenRI... Salam damai sejahtera bagi Rakyat / Bangsa Indonesia... Salam NKRI harga mati... Tuhan Yesus Memberkati Presiden Joko Widodo beserta jajarannya dan kita semua... 👌✊👏💪👍🙏🙏🙏🇸🇬🇸🇬🇸🇬🇸🇬🇸🇬🇸🇬🇸🇬
Sunday, May 26, 2019
PR Buat Pakde Jokowi, Edisi Radikalisme
PR Buat Pakde Jokowi, Edisi Radikalisme
Salam Optimis, Suarakan PendapatmuPakde Jokowi bisa dipastikan akan memimpin lagi bangsa Indonesia selama lima tahun kedepan. Upaya penguatan sendi sendi kebangsaan menjadi bagian penting demi keutuhan NKRI. Apa yang perlu dilakukan oleh Pakde Jokowi selama lima tahun kedepan?
Masalahnya saat ini terdapat sisa-sisa kompetisi kampanye yang dinilai brutal penuh ancaman desintegrasi sosial, tindakan intoleransi dan black campaign, yang tidak gampang dihilangkan. Isu-isu hoax, fitnah, ujaran kebencian seolah-olah menjadi kebenaran dari yang tidak benar-benar nyata. Kita sudah menyaksikan di berbagai berita dan media sosial, bagaimana anak-anak dan orang-orang dewasa terpapar indoktrinasi kedengkian kepada Presiden dan Pemerintah pada umumnya. Seolah-olah Indonesia sudah bukan lagi negara yang santun, tidak menghormati orang lain dan mengabaikan hukum. Nampak masif gerakan yang ditujukan untuk membangun opini publik, untuk tidak percaya kepada Pemerintah dan Penyelenggara Pemilu.
Radikalisme inilah yang menjadi PR (Pekerjaan Rumah) sangat serius bagi Pakde Jokowi dalam memimpin pemerintahan selama lima tahun mendatang.
Kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia, perlu berkontribusi dengan menyuarakan pendapat kita.
Pendapat yang dimuat dalam polling ini akan disampaikan kepada Pakde Jokowi untuk mendapatkan perhatian beliau.
Kami ucapkan terima kasih atas partisipasi Anda mengisi polling ini.
*) Pilih satu jawaban yang menurut Anda paling sesuai.
*) Jika Anda berpendapat lain, silahkan isi di jawaban "other".
*) Polling ini disusun oleh LeadershipPark Institute dan Konco Jokowi.
Masalahnya saat ini terdapat sisa-sisa kompetisi kampanye yang dinilai brutal penuh ancaman desintegrasi sosial, tindakan intoleransi dan black campaign, yang tidak gampang dihilangkan. Isu-isu hoax, fitnah, ujaran kebencian seolah-olah menjadi kebenaran dari yang tidak benar-benar nyata. Kita sudah menyaksikan di berbagai berita dan media sosial, bagaimana anak-anak dan orang-orang dewasa terpapar indoktrinasi kedengkian kepada Presiden dan Pemerintah pada umumnya. Seolah-olah Indonesia sudah bukan lagi negara yang santun, tidak menghormati orang lain dan mengabaikan hukum. Nampak masif gerakan yang ditujukan untuk membangun opini publik, untuk tidak percaya kepada Pemerintah dan Penyelenggara Pemilu.
Radikalisme inilah yang menjadi PR (Pekerjaan Rumah) sangat serius bagi Pakde Jokowi dalam memimpin pemerintahan selama lima tahun mendatang.
Kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia, perlu berkontribusi dengan menyuarakan pendapat kita.
Pendapat yang dimuat dalam polling ini akan disampaikan kepada Pakde Jokowi untuk mendapatkan perhatian beliau.
Kami ucapkan terima kasih atas partisipasi Anda mengisi polling ini.
*) Pilih satu jawaban yang menurut Anda paling sesuai.
*) Jika Anda berpendapat lain, silahkan isi di jawaban "other".
*) Polling ini disusun oleh LeadershipPark Institute dan Konco Jokowi.
1) Apakah Anda optimis bahwa Pakde Jokowi mampu memimpin Indonesia menjadi negara yang utuh sesuai Sila Ketiga, Persatuan Indonesia dan mewujudkan Sila Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? *
Ya
Tidak
Mungkin
Tidak tahu
Other:
2) Untuk mewujudkan bangsa Indonesia menjadi masyarakat yang siap maju dan sejahtera, dalam hal apa pembangunan manusia yang sebaiknya Pakde lakukan? *
Mendidik masyarakat yang disiplin, taat hukum, tertib dan saling menghargai
Memperkuat pendidikan agama
Memperkuat pendidikan teknologi
Memperkuat pendidikan karakter bangsa di sekolah
Tidak tahu
Other:
3) Setelah Pilpres 2019, masyarakat resah dengan aksi fanatisme dan wabah radikalisme di kalangan pendukung partai pengusung Capres Cawapres. Apa yang sebaiknya Pakde lakukan? *
Mengatur sanksi diskualifikasi partai yang melakukan pembiaran radikalisme di kalangan pengikutnya
Menyelenggarakan pendidikan moral, etika dan kebangsaan pada calon yang diusung oleh partai
Menuntut pimpinan partai yang membiarkan aksi radikalisme melalui jalur pengadilan
Membiarkan saja, karena ini hanya acara lima tahunan yang tidak berbahaya
Tidak tahu
Other:
4) Pilpres 2019 mendorong menguatnya wabah radikalisme, misalnya politisasi rumah ibadah atau gerakan menolak Pancasila. Pada Pilpres tahun 2024 dipandang perlu mencegah hal ini terjadi lagi. Apa yang sebaiknya Pakde lakukan? *
Membiarkan saja, peraturan yang mengatur hal ini sudah baik
Membuat regulasi larangan simbol-simbol kampanye yang memicu disintregrasi bangsa
Membuat regulasi detail tata cara kampanye agar sejalan dengan UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika
Memperketat syarat-syarat pencalonan, termasuk kesehatan jasmani dan kejiwaan Capres dan Cawapres.
Tidak tahu
Other:
5) Kita memiliki BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) yang bertugas membantu Presiden merumuskan arah kebijakan pembinaan ideologi Pancasila, namun dengan merebaknya wabah radikalisme yang terjadi akhir-akhir ini, apa yang sebaiknya Pakde lakukan? *
Memperkuat BPIP
Membubarkan BPIP
Membangun badan baru
Membiarkan BPIP dengan situasi dan kondisi saat ini
Tidak tahu
Other:
6) MPR memiliki program 4 Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD Tahun 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika) dengan merebaknya wabah radikalisme yang terjadi akhir-akhir ini, apa yang sebaiknya Pakde lakukan? *
Sosialisasi lebih intensif 4 pilar kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) di kalangan Partai-partai dan Komunitas Keagamaan
Menugaskan setiap anggota MPR DPR dan DPD untuk mampu mengajarkan 4 Pilar Kebangsaan secara berkala di sekolah sekolah
Mengganti program 4 Pilar Kebangsaan dengan program baru yang lebih modern
Memberhentikan program 4 Pilar Kebangsaan ini
Tidak tahu
Other:
7) Terkait dengan kurikulum berkarakter kebangsaan melalui pendidikan di sekolah, apa yang sebaiknya Pakde lakukan? *
Menambah jam kurikulum pendidikan agama
Menyusun kurikulum pendikan moral, etika dan kebangsaan
Menghidupkan dan memperbaiki pengajaran P4 (Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila)
Lanjutkan kurikulum pendidikan seperti saat ini tanpa P4 (Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila)
Tidak tahu
Other:
8) Untuk menghentikan radikalisme di lingkungan komunitas agama, apa yang sebaiknya Pakde lakukan? *
Seleksi ketat pada rekruitmen guru agama
Sertifikasi guru guru agama
Pemantauan ketat pada ceramah-ceramah di rumah ibadah
Negara harus mengambil alih pengelolaan rumah ibadah
Tidak tahu
Other:
9) Tenaga kerja disinyalir rentan terpengaruh oleh ajaran radikalisme, apa yang harus dilakukan? *
Memecat tenaga kerja yang terbukti ikut gerakan radikalisme
Tidak menerima pegawai yang pernah ikut gerakan radikalisme
Meminta Perusahaan bertanggung jawab membina pekerjanya dengan nilai-nilai kebangsaan
Meminta Serikat Pekerja bertanggung jawab membina anggotanya dengan nilai-nilai kebangsaan
Tidak tahu
Other:
10) Jika aparatur sipil negara (ASN) ikut dalam gerakan radikalisme, apa yang harus dilakukan oleh Pakde? *
Memberhentikan ASN itu dengan tidak hormat
Memberhentikan Kepala atau Ketua lembaganya
Melaporkan ke polisi
Membiarkan saja
Tidak tahu
Other:
11) Jika murid atau mahasiswa ikut dalam gerakan radikalisme, apa yang harus dilakukan? *
Dikeluarkan dari sekolah/kampus
Dilaporkan ke polisi
Diberi hukuman sosial
Dibiarkan saja
Dibina oleh Sekolah / Kampus
Tidak tahu
Other:
12) Bagaimana kita mengetahui bahwa orang terlibat dalam aliran atau gerakan radikal? *
Dari pernyataannya, berita, foto, audio atau video yang diunggah di media sosial.
Dari sikap dan penampilan
Dari pergaulan di komunitasnya
Dari latar belakang keluarga
Dari informasi BIN (Badan Intelijen Negara) atau Kepolisian
Tidak tahu
Other:
13) Apakah Anda memiliki pemikiran lain terkait dengan radikalisme ini, yang bisa disuarakan kepada Pakde Jokowi? *
Tidak punya, sudah cukup
Other:
Keterbukaan dlm mempelajari Kita Suci setiap pemeluk agama di Indonesia di level pendidikan tanpa baper.Saling memberi kelebihan dan kekurangan dalam penafsiran Kitab Suci tanpa baper.Terbuka atas kritikan dari pihak manapun,tanpa baper,buktikan secara ilmiah.Semua Kitab Suci harus dipelajari dengan akal sehat,diselidiki apa sumber sesungguhnya,mengapa seseorang bertindak radikalismi.Dipelajari mengapa seseorang bisa bertindak,dan apa yang mebuat mereka radikalisme.Harus dicara akar permasalahannya.Akar pikiran radikalisme, dan segera dilaksankan deradikalisme secara terubuka dan segera di seluruh Indonesia.
14) Apakah Anda berkenan mendapatkan gift dari kami? Jika berkenan, silakan isi data Anda (Nama, Nomor HP dan Alamat di kolom Other). Gift dapat diambil di Koffee Konco, Mall Epiwalk Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan. Bagi yang berada di luar Jabodetabek, gift dapat kami kirimkan. *)Selama persediaan masih ada. *
Tidak perlu, saya tidak suka gift. :)
Other:
JMG
UNS ternasuk dalam 8 PT ini :
Solo - Kelompok Islam yang bergerak secara eksklusif berkembang pesat di delapan perguruan tinggi negeri (PTN). Dikhawatirkan pergerakan ini akan menumbuhkan radikalisme di kalangan mahasiswa.
Hal ini merupakan hasil penelitian dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta dan beberapa perguruan lain.
Peneliti dari LPPM UNUSIA, Naeni Amanulloh, menyebut delapan kampus tersebut ialah UNS Surakarta, IAIN Surakarta, Undip Semarang, Unnes Semarang, UGM Yogyakarta, UNY Yogyakarta, Unsoed Purwokerto, IAIN Purwokerto.
Dia membagi kelompok Islam menjadi tiga, yakni salafi, tarbiyah dan hizbut tahrir. Kelompok hizbut tahrir itulah yang ia sebut cenderung bergerak secara eksklusif.
"Ada kontradiksi, kampus harusnya mengembangkan pemikiran kritis, sedangkan islam eksklusif cenderung doktriner, tertutup. Bagaimana bisa mereka berkembang di kampus?" kata Naeni seusai acara diskusi 'Islam Eksklusif Transnasional Merebak di Kampus Negeri' di Aula FISIP UNS Surakarta, Kamis (23/5/2019).
detiknews
Home Berita Daerah Jawa Timur Internasional Kolom Blak blakan Fokus Hoax Or Not Foto Most Popular Pro Kontra Suara Pembaca Infografis Video detikPemilu Indeks
detikPemilu
Home / detikNews / Berita Jawa Tengah
Kamis 23 Mei 2019, 20:10 WIB
Peneliti UNU Ungkap Kelompok Islam Eksklusif Merebak di 8 PTN
Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Peneliti UNU Ungkap Kelompok Islam Eksklusif Merebak di 8 PTN
Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
CLOSE AD
Solo - Kelompok Islam yang bergerak secara eksklusif berkembang pesat di delapan perguruan tinggi negeri (PTN). Dikhawatirkan pergerakan ini akan menumbuhkan radikalisme di kalangan mahasiswa.
Hal ini merupakan hasil penelitian dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta dan beberapa perguruan lain.
Peneliti dari LPPM UNUSIA, Naeni Amanulloh, menyebut delapan kampus tersebut ialah UNS Surakarta, IAIN Surakarta, Undip Semarang, Unnes Semarang, UGM Yogyakarta, UNY Yogyakarta, Unsoed Purwokerto, IAIN Purwokerto.
Dia membagi kelompok Islam menjadi tiga, yakni salafi, tarbiyah dan hizbut tahrir. Kelompok hizbut tahrir itulah yang ia sebut cenderung bergerak secara eksklusif.
"Ada kontradiksi, kampus harusnya mengembangkan pemikiran kritis, sedangkan islam eksklusif cenderung doktriner, tertutup. Bagaimana bisa mereka berkembang di kampus?" kata Naeni seusai acara diskusi 'Islam Eksklusif Transnasional Merebak di Kampus Negeri' di Aula FISIP UNS Surakarta, Kamis (23/5/2019).
Baca juga: Keunikan Zikir Ala Jemaah Khalwatyah Samman di Maros Sulsel
Dia menilai pandangan tersebut tidak kompatibel dengan Pancasila yang telah disepakati menjadi dasar negara Indonesia. Kelompok itu dinilai bisa masuk ke ranah radikalisme ideologi.
"Mereka memiliki pandangan khilafah, syariatisasi kehidupan publik, sedikit tidak mau menerima perbedaan. Selama ini ada isu yang mengarah ke radikalisme, seperti saat HTI dibubarkan mereka bergerak, saat pelarangan bendera ISIS, mereka menunjukkan simpati," ujar dia.
Menurutnya, pejabat kampus seharusnya berani mengambil sikap dalam mengatur kehidupan keagamaan kampus. Jangan sampai kelompok tersebut semakin bebas berkembang.
"Harus ada pemimpin yang berani. Kampus harus dibangun dengan tradisi akademis yang lebih kuat. Tapi tetap tidak boleh melanggar kebebasan akademik. Pemimpin kampus harus memiliki wawasan scientist clear," tutupnya.
https://m.detik.com/news/berita-jawa-tengah/d-4562815/peneliti-unu-ungkap-kelompok-islam-eksklusif-merebak-di-8-ptn
Nggak ngerti sampai skrg, knp Pemilu thn ini tiba2 menjadi "perjuangan Islam"?
Siapa yg di-zholimi? Kenapa tiba2 menjadi masalah yg mengatasnamakan Islam? Kalau tidak cinta Indonesia, ayolah, silakan pindah ke Arab. Please...! Kalian tahu seperti apa kehidupan di sebagian negara Arab? Perang saudara tak berkesudahan, dan bahkan kemaksiatan juga ada. Atau coba sekali2 kalian rasakan tinggal di negara dimana Islam menjadi minoritas. Dimana mencari makanan halal susah, apalagi untuk beribadah.
Kalian pengen seperti itu? Oh ya... Apa yang membuat capres yg kalah itu tiba2 seolah mewakili perjuangan umat islam? Di sisi mana ke-islam-annya? Menebar isu - bahkan fitnah - tak berdasar, tanpa bukti. Lalu utk Presiden terpilih... siapa yg bisa membuktikan Beliau2 itu bukan Islam?
Yang saya tahu, Islam mengajarkan menggunakan akal pikiran, bukan nafsu. Itulah sebabnya kita diwajibkan berpuasa setiap tahun untuk mengendalikan hawa nafsu. Percayalah, politik adalah urusan kekuasaan, sangat duniawi. Jangan mau diperalat dan dijadikan tumbal oleh orang-orang yg sebenarnya hanya mengejar kemewahan pribadi.
Agama dan ibadah adalah urusan personal kita dengan Sang Khalik. Jangan dibawa-bawa untuk kepentingan duniawi. Dan sekali lagi, tak ada satu pun Presiden yang bisa menjamin atau bertanggungjawab terhadap dosa-dosa kita di akhirat nanti. Pada akhirnya, kita sendiri yang akan memikul semuanya.
Salam hormat dan salut utk para petugas kepolisian dan TNI yg meninggalkan keluarga untuk menghadang bahaya, yang ditebarkan orang-orang yg tak pernah mensyukuri kenikmatan yg didapatnya.




